Sabtu, 05 November 2011

Waspada, Anemia Ancam Buah Hati!

ANCAMAN anemia, gizi buruk, dan tubuh pendek terus menghantui anak-anak sekolah di Indonesia. Orangtua menjadi kunci penting untuk mengingatkan para tumpuan harapan bangsa ini untuk mengonsumsi jajanan yang sehat dan bergizi.
Penyakit anemia dan terhambatnya pertumbuhan fisikatau pendek ( stunting ) kini tengah mengancam anakanak Indonesia. Hal ini ditengarai karena mereka kurang mendapatkan asupan makanan yang mengandung zat besi dan zinc . Jajanan yang kurang sehat dan bergizi di kantin sekolah anak ditengarai menjadibiang keladi dari semua itu.
Data Riskesdas 2010 menyebutkan, status gizi dan konsumsi gizi anak Indonesia masih bermasalah. Sekitar sepertiga anak masih mengalami status gizi pendek (termasuk sangat pendek) dan seperenam anak balita masih mengalami gizi kurang (termasuk gizi buruk). Sepertigaanak balita tidak memenuhi kebutuhan energi minimal yang dibutuhkan, dan seperlima balitatidak memenuhi kebutuhan protein minimal.
Rata-rata pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral anak 10-12 tahun pada umumnya di bawah 65 persen. Namun, sebagian anak mengonsumsi telah melebihi kebutuhannya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang bertanggung jawab dalam hal pengawasan pangan anak menemukan hanya 1 persen anak sekolah yang tidak jajan dalam sepekan. Karena itu, sangat penting peran orangtua dalam memperhatikan asupan anak selama di rumah.
“Dari sebuah temuan menarik seputar gizi, satu dari lima anak orang kaya dapat dikelompokkan underweight dan pendek. Hal ini berkaitan erat dengan kurangnya pengetahuanorang tua terhadap pentingnya nilai gizi pada apa yang dikonsumsi anak,” kata Dr Ir Roy Sparingga M App Sc, Deputi III BPOM, dalam diskusi ilmiah bertema “Keamanan Pangan dan Pola Konsumsi Anak” olehFonterra Brands Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Roy menuturkan, strategi manajemen risiko yang tepat harus diterapkan dalam rangkamewujudkan dan menjaga keamanan, mutu, dan gizi pangan yang dikonsumsi anak-anak pada khususnya maupun orang dewasa pada umumnya. Peran serta orang-orang terdekat, seperti ibu dan anggota keluarga lainnya, masyarakat sekolah, produsen pangan, elemen masyarakat lainnya, hingga pemerintah harus diperkuat untuk mencapaitujuan tersebut.
“Diperlukan kerja sama lintas sektor, termasuk komunitas sekolah untuk bersama- sama memberi penyuluhan pada anak sejak usia dini, seperti tentang apa saja makanan bergizi seimbang,” sarannya.
Drs Suratmono MP, Direktur Inspeksi & Sertifikasi Pangan BPOM, mengutarakan, masalah utama keamanan pangan jajanan anak sekolah hingga saat ini adalah cemaran mikroba karena kondisi higiene dan sanitasi buruk serta cemaran kimia karena kondisi lingkungan yang tercemar limbah industri.
“Selain itu, karena penyalahgunaan bahan berbahaya yang dilarang untuk pangan seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil, dan juga penggunaan BTP (bahan tambahan pangan) melebihi batas maksimal yang diizinkan,” paparnya.
Sementara itu, di tempat berbeda, tenaga ahli Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Jaya Dr Saptawati Bardosono MSc menuturkan, orangtua musti waspada gejala anemia pada anak.
“Jika anak sering lesu, seringmengantuk, maunya tidur, malasatau makan banyak tapi badannya kurus, bisa jadi itu tanda-tanda anemia,” ujarnya.
Kondisi lain yang bisa diperiksa orangtua pada anak, lanjut Saptawati, adalah dengan memeriksa telapak tangan anak. Jika telapak tangan yang sedikit ditekuk terlihat pucat atau warna kuku yang juga pucat, maka kemungkinan dia mengalami anemia.
Saptawati mengatakan, penyebab paling umum dari anemia adalah kekurangan zat besi. Kandungan zat besi pada makanan, banyak terdapat pada daging merah, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta makanan yang difortifikasi (diberi tambahan vitamin dan mineral).
Satu lagi zat gizi yang dibutuhkan anak sekolah adalah zinc , yang dapat diperoleh dengan mengonsumsi daging, keju, telur, unggas, dan sayuranhijau. Anak juga butuh kalsium, yang banyak dikandung pada produk susu, sebagai pembentuk massa tulang dan gigi.
Menurut Saptawati, anak Indonesia cenderung kurus sehingga mereka menjadi kurang aktif bergerak. Akibat kekurangan sejumlah zat gizi itu,sekitar 10 persen-15 persen anak sekolah menderita anemia.
Angkanya berbeda-beda di setiap daerah. Saat memilih jajanan sehat, dia meminta Anda untuk mengingatkan si buah hati agar lebih peduli dengan apa yang dikonsumsinya. Sebaiknya pilih makanan yang mengandung tiga bahan bergizi, tidak lebih dari satu jenis pemanis, cegah penggunaan asam lemak trans serta rendah kandungan gula, minyak dan garam.
“Anak musti diinformasikan terus,karena kantin sekolah menawarkan banyak variasi makanan yang membuat mereka bingung,“ imbuh Saptawati.

Waspada, Rokok Berisiko Percepat Menopause

PARA perempuan yang memiliki kebiasaan merokok mungkin harus menghentikan kebiasaan tersebut sekarang juga. Sebuah penelitian mengungkapkan, perempuan perokok berisiko mengalami menopause sekitar setahun lebihawal daripada mereka yang tidak merokok. Studi yang dilakukan oleh jurnal “Menopause” menyatakan bahwa menopause lebih awal dapat berisiko terkena penyakit tulang dan jantung.
Penelitian ini mengumpulkan datadari beberapa penelitian sebelumnya yang mencakup sekitar 6.000 wanita di Amerika Serikat, Polandia, Turki,dan Iran. Penelitian ini menyebutkan bahwa bagi wanita non-perokok, rata-rataakan mengalami menopause antara usia 46 sampai 51 tahun.Tapi dalam semua studi, kecuali dua studi, wanita perokok akan mengalami menopause di usia yang lebih muda, yaitu antara 43 dan 50 tahun.
Selama menopause, ovarium seorang wanita berhenti memproduksi telur dan wanita tersebut tidak dapat hamil lagi.
“Hasil penelitian kami memberikan bukti lebih lanjut bahwa merokok secara signifikan berhubungan dengan awal (usia menopause) dan memberikan pembenaran bagi perempuan untuk menghindari kebiasaan ini,” ungkap penulis studi, VolodymyrDvornyk dari University of HongKong.
Dvornyk dan rekan-rekannya juga menganalisis lima penelitianlain yang menggunakan perempuan usia senja sekitar 50 atau 51 tahun untuk menjadi “awal”dan “terlambat” mengalami menopause. Dari sekitar 43.000 wanita dalam analisis itu, perempuan yang merokok 43 persen lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan yang bukan perokok.
Baik awal maupun akhir menopause telah dikaitkan dengan risiko kesehatan. Wanitayang mengalami keterlambatan menopause misalnya, dianggap berisiko tinggi mengidap kanker payudara karena salah satu faktor risiko untuk penyakit ini lebih banyak terkena estrogen.
“Konsensus umum menyebutkan, menopause dini mungkin terkait dengan jumlah yang lebih besar dan risiko yang lebih tinggi dari masalah kesehatan saat menopause, seperti osteoporosis, penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, obesitas, penyakit alzheimer, dan lain-lain,” kata Dvornyk dalam Reuters Health .
Secara keseluruhan, dia menambahkan, menopause dini juga diduga meningkatkan risikokematian seorang wanita di tahun berikutnya. Ada dua teori mengapa merokok mungkin berarti menopause dini, kata Jennie Kline, seorang ahli epidemiologi dari Mailman SchoolColumbia University of Public Health di New York.
Merokok mempunyai efek pada bagaimana tubuh perempuan atau dengan kata lain dapat menyingkirkan estrogen. Beberapa peneliti percaya bahwa komponen tertentu dari asap rokok dapat membunuh telur, kata Kline, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Tim Dvornyk tidak memiliki informasi tentang berapa lama wanita tersebut merokok, apakah lama atau tidak, atau berapa banyak rokok yang mereka isap setiap harinya. Timnya pun tidak bisa menentukan bagaimana salah satu dari faktor tersebut mungkin
memengaruhi usia menopause.
Untuk alasan itu dan kurangnya data tentang kesehatan lainnya serta faktor gaya hidup terkait dengan menopause, analisis mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan pertanyaan yangtersisa antara merokok dan menopause. Alkohol, berat badan, dan apakah wanita telah melahirkan atau belum, juga mungkin memainkan peran di saat mereka mengalami menopause. Meski begitu, Kline menyatakan bahwa bukti untuk segala sesuatu selain merokok telah dikaitkan

Hobi Minum Kopi, Waspada Osteoporosis!

KEDAI kopi menjamur di berbagai titik ibu kota. Bila minum kopi telah menjadi hobi dan tren di berbagai kalangan, kekhawatiran yang muncul adalah kekeroposan tulang.
Selain menopang tubuh, tulang juga berfungsi menyimpan mineral penting bagi tubuh. Maka penting untuk menjaga kepadatan tulang dengan memerhatikan asupan makanan.
Makanan tinggi kalsium dibutuhkan untuk meningkatkan kepadatan tulang, tetapi ada beberapa jenis makanan dan minuman yang harus dihindari karena memercepat kerapuhan tulang dengan cara melepaskanmineral. Salah satunya kafein.
“Kurangi kopi untuk mencegah osteoporosis. Tapi sekarang kita lihat, kedai kopi makin ngetren, sehari orang bisa ngopi beberapa kali,” kata Menkes RI Endang Rahayu Sedyaningsih pada acara “Indonesia Melangkah; Cintai Tulangmu, Cegah Osteoporosis” oleh Anlene di TMII, Jakarta Timur, baru-baru ini.
Kafein memiliki efek meningkatkan pengeluaran kalsium tulang. Selain kopi, cukup banyak makanan dan minuman yang mengandung kafein tinggi, seperti minuman energi (sekira 80 mg kafein perkaleng). Persoalan bertambah berat karena kafein memiliki efek kecanduan sehingga sulit beralih pada pilihan minuman yang lebih sehat.
Di samping kafein, terdapat beberapa faktor risiko lain yangmemperbesar kasus kekeroposan tulang seseorang. Menkes Endang menambahkan, tidak ada satu faktor yang paling memperbesar risiko osteoporosis karena semua faktor terakumulasi.
“Gaya hidup sekarang sudahberubah. Karena teknologi maju,ada mobil, kita malas jalan. Kalau di Jakarta, kita juga malas jalan karena trotoarnya sudah dipenuhi penjual kaki lima.Kemudian, banyak makan fast food dan merokok. Tren anak muda merokok makin besar,” tambahnya.
Ia memaparkan, berdasarkan Survei Nasional Kemenkes di antara 10 orang Indonesia usia dewasa, 1 orang menderita osteoporosis. Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah, sama dengan pencegahan dari faktor risiko penyakit, seperti kanker, diabetes mellitus, jantung, dan paru-paru kronik.
“Pencegahannya meliputi jangan minum alkohol, tidak merokok, kurangi kopi, makan makanan bergizi terutama sayurdan buah, aktivitas fisik cukup dan teratur. Tidak usah yang berat seperti angkat besi, tetapicukup jalan kaki 30 menit, 3-5 kali dalam seminggu. Kemudian juga beristirahat cukup. Ketika ini dilaksanakan, maka banyak penyakit tidak menular yang dapat dicegah,” tutupnya.